logo

Organda Jateng: Ratusan Bus Tak Layak Operasi

Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah (Jateng) menyatakan sekitar 10% angkutan umum atau bus yang beroperasi di wilayah Jateng masuk dalam kategori tidak layak.

Hal ini diungkapkan Kepala Dishub Jateng, Satriyo Hidayat, saat menggelar diskusi bertajuk Menuju Terminal Mandiri di Hotel Gets, Kota Semarang, Rabu (17/10/2018)

Satriyo menyebutkan total sebenarnya ada sekitar 6.000 bus yang terdata di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) beroperasi di wilayah Jateng. Namun, setelah didata ulang Dishub Jateng, hanya setengah dari jumlah tersebut atau sekitar 3.417 unit yang aktif beroperasi.

“Dari 3.417 bus ini, sekitar 10% (341 bus) dianggap tidak layak beroperasi. Usianya bahkan sudah lebih dari 25 tahun,” ujar Satriyo.

Bus yang tak layak jalan itu rata-rata merupakan milik perusahaan otobus (PO) yang tak memiliki pendanaan untuk melakukan peremajaan.
Mereka biasa beroperasi di wilayah Jateng bagian timur sebelah utara, seperti Pati, Keling, dan Rembang, yang jumlah peminatnya juga sedikit.

“Maka itu ya harus kita lakukan pendekatan. Bagaimana agar bus-bus itu bisa dilakukan scraping. Selain itu juga mendorong minat masyarakat untuk kembali menggunakan angkutan umum,” imbuh Satriyo.

Satriyo menambahkan pihaknya saat ini juga telah melakukan kerja sama dengan pihak Organda dalam melakukan peremajaan bagi bus-bus yang tidak layak beroperasi.
Dengan peremajaan atau scraping, Satriyo berharap banyak PO yang bertahan di tengah era globalisasi seperti saat ini, di mana angkutan umum sudah tidak lagi diminat.

“Toh, masih banyak juga PO yang bertahan sampai saat ini, seperti Efisiensi, Sumber Alam, dan Sinar Jaya. Mereka menerapkan e-ticketing dan kita perlu belajar dari sana,” beber Satriyo.